Header Ads

Ekspor Senjata Mesir Melonjak Tajam


Mesir mengawali tahun ini dengan lonjakan signifikan dalam ekspor persenjataan, menandai pergeseran besar dari posisi historisnya yang cenderung terbatas di pasar senjata global. Perkembangan ini dipandang sebagai tonggak penting bagi industri pertahanan nasional Mesir yang selama ini lebih dikenal sebagai produsen untuk kebutuhan domestik.

Sumber-sumber industri menyebutkan peningkatan ekspspor ini bukan bersifat insidental, melainkan hasil dari strategi jangka menengah yang berfokus pada kemandirian teknologi, alih teknologi, dan perluasan pasar ke Afrika serta Timur Tengah.

Salah satu kontrak yang paling menonjol adalah rencana ekspor 20 unit drone VTOL UAV ke sebuah negara Afrika yang tidak diungkapkan identitasnya. Drone tersebut bernama Hamza-1 dan diproduksi melalui kerja sama dengan grup pertahanan Turki, Havelsan, dalam skema transfer teknologi.

Kerja sama dengan Havelsan menunjukkan pendekatan Mesir yang pragmatis, menggabungkan kemitraan internasional dengan pembangunan kapasitas industri dalam negeri. Drone Hamza-1 diproyeksikan untuk kebutuhan pengawasan, pengintaian, dan operasi taktis jarak menengah.

Di sektor kendaraan tempur darat, Mesir juga mencatat kemajuan signifikan dengan ekspor 200 unit kendaraan lapis baja Temsah Sherpa. Kendaraan ini merupakan varian lokal dari kendaraan taktis lapis baja Sherpa-2 buatan Prancis yang dimodifikasi dan diproduksi secara domestik.

Ekspor Temsah Sherpa menegaskan kemampuan Mesir dalam melakukan adaptasi desain asing menjadi produk nasional yang kompetitif. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Mesir sebagai pusat produksi kendaraan militer di kawasan Afrika Utara.

Selain itu, kontrak lain juga telah diselesaikan untuk ekspor 20 unit kendaraan lapis baja tambahan. Paket ini mencakup 10 unit FAHD-300 Infantry Fighting Vehicle serta Armored Personnel Carrier yang dirancang untuk mendukung operasi infanteri dan mobilitas pasukan.

FAHD-300 sendiri telah lama menjadi tulang punggung kendaraan lapis baja Mesir dan terus dikembangkan agar sesuai dengan kebutuhan medan modern. Keberhasilannya menembus pasar ekspor menunjukkan daya saing produk lama yang terus dimutakhirkan.

Dari sektor swasta, Grup Amstone mencatat capaian penting dengan menandatangani kontrak ekspor drone serang satu arah buatan lokal, Jabbar-150 dan Jabbar-250. Kesepakatan ini melibatkan tiga negara yang identitasnya dirahasiakan.

Drone Jabbar dikembangkan dengan konsep desain yang sejenis dengan Shahed-136, menempatkannya dalam kategori amunisi berkeliaran berbiaya relatif rendah namun berdaya hancur signifikan. Produk ini dinilai menarik bagi negara-negara berkembang yang mencari solusi militer asimetris.

Keterlibatan perusahaan swasta dalam ekspor ini menunjukkan diversifikasi ekosistem industri pertahanan Mesir, yang sebelumnya sangat didominasi oleh perusahaan milik negara dan militer.

Mesir juga dilaporkan telah mengekspor bom serbaguna Hafez yang diproduksi secara domestik. Seperti lazimnya transaksi persenjataan, identitas pengguna akhir tidak diungkapkan secara resmi.

Pejabat pertahanan Mesir hanya menyebut negara penerima sebagai “negara sahabat dan bersaudara,” istilah diplomatik yang secara luas dipahami merujuk pada negara-negara Arab.

Di tingkat negosiasi, Mesir kini berada pada tahap akhir pembicaraan dengan dua negara Afrika untuk ekspor sistem peluncur roket ganda Raad-200. Sistem ini menggunakan roket 122 mm yang telah teruji luas di berbagai konflik regional.

Paket ekspor tersebut juga mencakup kendaraan tempur lapis baja berantai SENA-200 yang dirancang untuk mendukung operasi artileri dan mekanis.

Jika kesepakatan ini terealisasi, Mesir akan memperluas portofolio ekspornya ke sistem senjata berat, melampaui kategori drone dan kendaraan taktis.

Para analis menilai lonjakan ekspor ini mencerminkan perubahan strategi nasional Mesir dari sekadar konsumen dan produsen lokal menjadi pemain regional di pasar persenjataan.

Afrika dipandang sebagai pasar utama, dengan kebutuhan keamanan yang meningkat dan keterbatasan akses ke pemasok Barat akibat faktor politik dan anggaran.

Keberhasilan Mesir juga tak lepas dari pendekatan harga yang kompetitif serta fleksibilitas dalam skema pembayaran dan kerja sama industri.

Meski demikian, transparansi dan dampak geopolitik dari ekspor senjata ini tetap menjadi perhatian komunitas internasional, khususnya terkait stabilitas kawasan.

Dengan rangkaian kontrak yang terus bertambah, Mesir kini muncul sebagai salah satu kekuatan industri pertahanan baru di kawasan, sekaligus menandai babak baru dalam ambisi militernya di panggung regional dan Afrika.

Tidak ada komentar