Berbagai Satuan Militer Yaman untuk Kondisi Darurat
Peta militer Yaman kembali mengalami pergeseran penting dengan munculnya Crisis/Emergency Force yang didukung penuh Arab Saudi. Formasi ini kini menjadi salah satu instrumen utama dalam strategi keamanan Riyadh di Yaman, berdampingan dengan Nation Shield (Dir’ al-Watan) yang berfungsi sebagai kekuatan darat strategis.
Secara konseptual, pengamat menyamakan Nation Shield dengan Kostrad di Indonesia, sementara Emergency Force diposisikan sebagai kekuatan reaksi cepat nasional yang fleksibel dan siap digerakkan dalam situasi darurat keamanan.
Emergency Force Yaman resmi dibentuk pada pertengahan 2025, hampir bersamaan dengan pembentukan Nation Shield. Seluruh struktur komandonya berada langsung di bawah Joint Forces Command Arab Saudi dalam kerangka Koalisi Pendukung Legitimasi.
Pembentukan ini menandai fase baru intervensi Saudi, tidak lagi sekadar mendukung faksi lokal, tetapi membangun unit semi-reguler dengan struktur, logistik, dan pendanaan yang relatif stabil.
Dari sisi kekuatan, Emergency Force terdiri atas enam divisi tempur, mencakup sekitar 18 brigade dengan total personel diperkirakan mencapai 30.000 kombatan, menjadikannya salah satu kekuatan darat terbesar di luar militer reguler Yaman.
Komposisi personel didominasi oleh warga dari provinsi-provinsi utara Yaman, dengan kehadiran ideologi Salafi yang cukup menonjol, serta unsur pejuang kabilah yang dikenal keras menentang Houthi.
Secara historis, pasukan ini bukan dibangun dari nol. Emergency Force merupakan hasil restrukturisasi dari formasi lama bernama Forces of Yemen al-Saeed, yang sudah menerima dukungan Saudi sejak 2019.
Restrukturisasi besar-besaran baru benar-benar dilakukan setelah pembentukan Presidential Leadership Council (PLC) pada April 2022, ketika Saudi mulai merapikan ulang seluruh arsitektur keamanan di wilayah yang dikuasai pemerintah.
Dari sisi pengawasan, Emergency Force berada di bawah supervisi Mayjen Purnawirawan Falah al-Shahrani, penasihat Komandan Pasukan Gabungan Saudi, yang juga merangkap sebagai pengawas eksekutif Nation Shield.
Dalam hal peran tempur, Emergency Force berfungsi sebagai pasukan infanteri darat, namun dengan pelatihan khusus untuk operasi cepat, respons krisis, dan pengamanan wilayah rawan.
Perlengkapan tempurnya tergolong modern untuk standar Yaman, mencakup kendaraan lapis baja, kendaraan tempur taktis, senjata anti-armor, serta drone taktis untuk sebagian unit.
Keunggulan utama pasukan ini terletak pada stabilitas logistik dan pendanaan reguler dari Saudi, sesuatu yang jarang dimiliki unit-unit bersenjata Yaman lainnya.
Namun, kelemahannya juga nyata. Beberapa unit masih tergolong baru, dengan rantai komando dan disiplin organisasi yang belum sepenuhnya matang dibandingkan angkatan reguler.
Dalam penempatan wilayah, divisi pertama bermarkas di Ruwaik, Marib, dan telah digeser ke Dataran Tinggi Hadramaut, dipimpin Brigjen Yasser al-Maabari.
Divisi kedua bertugas di front Saada dan perbatasan Saudi, khususnya sektor Alab, di bawah komando Mayjen Yasser Majali, menjadikannya garis depan langsung melawan Houthi.
Divisi ketiga ditempatkan di Al-Wadi’ah (Hadramaut) dan sebagian Saada, terdiri dari empat brigade dengan komando lapangan yang bersifat kolektif.
Divisi keempat beroperasi di Al-Baqa’, Kataf, dan Baqim (Saada), dipimpin oleh Raddad al-Hashimi, sementara divisi keenam—yang terbesar—menguasai wilayah barat Saada seperti Marran, Razih, dan Munabbih, di bawah Mayjen Abdulkarim al-Sudai.
Informasi tentang divisi kelima relatif terbatas, namun unit-unitnya diketahui bermarkas di Al-Wadi’ah dan wilayah perbatasan, serta memiliki batalion darurat di Shabwa yang dipimpin Abdrabboh Laqab.
Perkembangan terbaru hingga Januari 2026 menunjukkan pemerintah Yaman, dengan dukungan koalisi, telah mengerahkan batalion dari divisi pertama dan ketiga ke Hadramaut, meliputi Mukalla, Seiyun, serta wilayah lembah dan gurun, disertai laporan penyebaran tambahan di Al-Mahra bersama Nation Shield.
Tujuan operasional langkah ini dinilai jelas: reposisi kekuatan ke wilayah timur, menyeimbangkan pengaruh faksi lain, menopang legitimasi pemerintah pusat, menekan Houthi, serta membatasi ekspansi kekuatan bersenjata yang didukung pihak eksternal selain Saudi.
Baca selanjutnya



Post a Comment